Tampilkan postingan dengan label download. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label download. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2009

Dengue haemorrhagic Fever ( DHF) / Demam Berdarah



Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina). (Christanti Effendy, (1995:1).

virus akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus antibody, dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C34 dan C54,dua peptide yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya pendarahan hebat, terutama pendarahan saluran gastroentistinsal pada DHF.

Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diastasis haemoragik renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipotermik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis. Dari penjelasan diatas dapat digambarkan seperti bagan dibawah ini:



Manifestasi Klinis
Adapun tanda gejala DHF adalah sebagai berikut: demam mendadak tanpa sebab yang jelas disertai gejala lain seperti lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan, punggung, sendi, kepala dan perut. Gejala tersebut menyerupai influenza biasa. Pada hari ke-2 atau ke-3 demam muncul bentuk perdarahan yang beraneka ragam dimulai dari yang paling ringan berupa pendarahan dibawah kulit (petekie/ekimosis), perdarahan gusi, epistaksis, sampai perdarahan yang hebat berupa muntah darah akibat perdarahan lambung, melena, dan juga hematuria massif. Selain perdarahan jugja terjadinya syok yang banyak dijumpai pada saat demam telah menurun antara ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi makin lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung terasa dingin dan lembab. Denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

Klasifikasi DBD

1. Derajat I = Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turnikel positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II = Derajad I disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain.
3. derajat III = kegagalan sirkkulasi; nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin, lembab dan gelisah.
4. Derajat IV = renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur. (Suriadi dan Rita Yuliani, (2001) ).

Pemeriksaan Diagnostik

1. Darah lengkap: hemokonsentrasi (hemotokrit meningkat 20% atau lebih), trombositopeni (100.000 /mm3 atau kurang)
2. Serologi: Uji HI (Hemaaglutination Inhibition test)
3. Rontgen Thorax: efusi pleura

Penatalaksanaan Terapetik

Keperawatan:

1. Minum banyak 1,5 – 2 liter/24 jam dengan air the, gula, atau susu
2. Kompres/seka dengan air dingin
3. Gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat

Medis:

1. Antipiretik jika terdapat demam
2. Antikonvulsan jika terdapat kejang

3. Pemberian cairan melalui infuse, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat.

Submitted by ramadoni on Saturday, 22 August 2009

selanjutnya ►►

SYOCK (GANGGUAN SIRKULASI)

Definisi :
-        Suatu keadaan / syndrome gangguan perfusi jaringan yang menyeluruh sehingga tidak terpenuhinya kebutuhan metabolisme jaringan.
(Rupii, 2005)
-        Keadaan kritis akibat kegagalan sistem sirkulasi dalam mencukupi nutrien dan oksigen baik dari segi pasokan & pemakaian untuk metabolisme selular jaringan tubuh sehingga terjadi defisiensi akut oksigen akut di tingkat sekuler.
(Tash Ervien S, 2005)
  1. Klasifikasi Syock :
    1. Syock kupoveolenik
    2. Syock distributif (berubahnya tonusvaskuler akibat neurohormonal)
    3. Syock kardiogenik (kegagalan pompa jantung)
    4. Syock septik
    5. Syock obsmertif (obstuksi persision dan jalan keluar jantung)
Download selengkapnya disini

selanjutnya ►►

SYOCK (GANGGUAN SIRKULASI)

Definisi :
-        Suatu keadaan / syndrome gangguan perfusi jaringan yang menyeluruh sehingga tidak terpenuhinya kebutuhan metabolisme jaringan.
(Rupii, 2005)
-        Keadaan kritis akibat kegagalan sistem sirkulasi dalam mencukupi nutrien dan oksigen baik dari segi pasokan & pemakaian untuk metabolisme selular jaringan tubuh sehingga terjadi defisiensi akut oksigen akut di tingkat sekuler.
(Tash Ervien S, 2005)
  1. Klasifikasi Syock :
    1. Syock kupoveolenik
    2. Syock distributif (berubahnya tonusvaskuler akibat neurohormonal)
    3. Syock kardiogenik (kegagalan pompa jantung)
    4. Syock septik
    5. Syock obsmertif (obstuksi persision dan jalan keluar jantung)
Download selengkapnya disini

selanjutnya ►►

CEDERA KEPALA


A. PENGERTIAN

Cedera Kepala adalah gangguan traumatik dari fungsi otak, tanpa atau diikuti terputusnya kontinuitas otak dan dapat mengakibatkan kematian dan kecacatan pada manusia.


B. ETIOLOGI

Etiologi utama dari cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, trauma benda tajam dan benda tumpul, kejatuhan benda berat, kecelakaan industri.

C. PATOFISIOLOGI


Trauma pada kepala bisa disebabkan oleh benda tumpul maupun benda tajam. Cedera yang disebabkan benda tajam biasanya merusak daerah setempat atau lokal dan cedera yang disebabkan oleh benda tumpul memberikan kekuatan dan menyebar ke area sekitar cedera sehingga kerusakan yang disebabkan benda tumpul lebih luas. Berat ringannya cedera tergantung pada lokasi benturan, penyerta cedera, kekuatan benturan dan rotasi saat cedera.

D. TANDA DAN GEJALA

Manifestasi klinis yang muncul pada klien dengan cedera kepala yaitu : gangguan kesadaran, konfusi, abnormalitas pupil, defisit neurologik, perubahan tanda-tanda vital, mual dan muntah, vertigo, gangguan pergerakan, mungkin ada gangguan penglihatan dan pendengaran.

E. KLASIFIKASI CEDERA KEPALA

1) Komosio cerebri/cedera kepala ringan/mild head injury gangguan fungsi neurologi ringan yang terjadi sesaat, dengan gejala hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit, tidak mengalami gangguan orientasi, mual, muntah, nyeri kepala, GCS 13-15, dan tanpa adanya kerusakan struktur otak.

2) Cedera kepala sedang/moderate head injury, gangguan fungsi neurologik ditandai dengan hilangnya kesadaran lebih dari 10 menit sampai dengan 2-5 jam, pasien mengalami disorientasi ringan, mual, muntah, GCS 9-12 disertai kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas oatk masih utuh.

3) Kontusio cerebri/cedera kepala berat/severe head injury, ditandai dengan hilangnya kesadaran lebih dari 24 jam, pasien mengalami disorientasi berat, GCS kurang dari 9, otak mengalami memar, laserasi dan haemoragik.

F. KOMPLIKASI

Komplikasi dari cedera kepala meliputi edema pulmonal, kejang, infeksi, bocor cairan otak, hipertermia, masalah mobilisasi.


G. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan medis pada trauma kepala, bila ada peningkatan tekanan intraktranial (TIK) diatasi dengan mempertahankan oksigensasi adekuat, pemberian obat anti edema manitol, hiperventilasi, penggunaan steroid, kemungkinan intervensi bedah neuro, pemberian analgetik dan antibiotika untuk infeksi anaerob.

H. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengumpulan data pasien baik subyektif atau obyektif pada gangguan system persyarafan berhubungan dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:

a. Identitas pasien

b. Riwayat kesehatan

Pada umumnya pasien cedera kepala datang ke rumah sakit dengan penurunan kesadaran, bingung, muntah, sakit kepala, luka di kepala, akumulasi sputum, liguor dari hidung dan telinga.

c. Pemeriksaan fisik


- Aspek neurologis : tingkat kesadaran, disorientasi orang / tempat, perubahan TTV, kejang, gangguan nervus.

- Aspek kardiovaskuler, tekanan darah menurun, apabila terjadi peningkatan TIK, maka tekanan darh meningkat, nadi bradikardi, kemudian takikardi, irama tidak teratur.

- Aspek sistem pernafasan, perubahan pola nafas, irama dan kedalaman, adanya sekret pada trakheobronkhiolus.

- Aspek sistem eliminasi : retensi/inkontinensia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

- Aspek sistem gastrointestinal : kaji tanda-tanda penurunan fungsi pencernaan, mual dan muntah.

d. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa cedera kepala antara lain dengan X-Ray, CT Scan, Angiografi.

e. Penatalaksanaan medis

Dexamethosone/kalmethasone sebagai pengobatan anti edema serebral, pemberian analgetika, pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol, antibiotik untuk infeksi anerob, makanan cair/bubur bila klien mual.


Download askep Cedera Kepala :

AsuhanKeperawatan.com | Ziddu.com

selanjutnya ►►