Kamis, 03 September 2009

KANKER KANDUNG KEMIH


A. DEFINISI
Kanken kandung kemih adalah papiloma yang tumbuh didalam lumen kandung kemih,meskipun pada pertumbuhannya mungkin menginfiltrasi sampai dinding kandung kemih (Luckman and Sorensen. 1993).



B. ETIOLOGI
Factor yang mempengaruhi terjadinya karsinoma kandung kemih adalah zat karsinogen,baik eksoghen dari rokok atau bahan kimia atau endogen dari hasil metabolisme.
Penyebab lain diduga akibat dari pemakaian analgetik,sitostatik,dan iritasi kronik oleh batu,sistosomiasis (infeksi parasit karena iritasi kandung kemih),atau radiasi.

C. PATOFISIOLOGI
Perokok baik aktif maupun pasif dapat menghasilkan metabolisme karsinogen yang dihasilkan oleh metabolisme tryptophan yang abnormal. Kebanyakan CA buli berasal dari papiloma yang berubah menjadi ganas. Tumor noduler jarang terjadi tetapi dapat juga menginvasi dinding buli. Proliperasi sel terdiri atas sel epitelium transisional (90 %) , squmuosa (6 %),dan adenocarsinoma ( 2%).
Derajat tumor berdasarkan kedalaman penetrasi kedalam dinding buli dan derajat metastase,penentuan derajat kanker harus ditegakan terlebih dahulu sebelum dilakukan penatalaksanaan. Skema derajat CA buli adalah sebagai berikut :
Derajat O. ( To,No,Mo ) Tumor terbatas pada mukosa.
A. ( T1,No,Mo ) Tumor menembus mukosa.
B1. ( T2,No,Mo ) Tumor sudah melebihi ½ dari lapisan mukosa.
B2. ( T3a,No,Mo ) Sel tumor menembus muscular tetapi tidak mencapai lemak.
C. (T3,No.Mo ) Sel menembus seluruh lapisan muscular tetapi tidak metastases jaga tidak menembus pada jaringan sekitarnya.
D1. ( T4a,N1-3,Mo ) bermetastase pada nodus limpe pelvic.
D2. ( T4a,Na,M1 ) Bermetastase pada pelvic.
Kanker biasa bermetastase ke liver,tulang dan paru-paru,lebih lanjut tumor menyebar ke rectum ,vagina, jaringan lunak dan struktur retroperitoneal. Tumor derajat C atau D memiliki prognosis yang buruk. Tumor superficial memiliki peluang untuk disetabilkan atau dibuang,tetapi angka kekambuhannya cukup tinggi. Kurang dari 25 % klien dengan invasi tumor yang dalam memiliki rata-rata bertahan hidup sekitar 5 tahun, sedangkan Adenokarsinoma sekitar 21 bulan.
D. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Kandung kemih adalah merupakan salah satu organ dalam system perkemihan yang berpungsi sebagai penampung urine,yang berbentuk buah pir (kendi),yang dikelilingi oleh otot yang kuat,berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medialis.
Kandung kemih terletak dibelakang simpisis pubis didalam rongga panggul. Kandung kemih terdiri dari :
1. Fundus yaitu bagian yang menghadap kearah belakang dan bawah,bagian ini terpisah dari rectum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent,vesika seminalis dan prostat.
2. Korpus yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks yaitu bagian yang meruncing kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan :
1. Lapisan sebelah luar (peritoneum ).
2. Tunika muskularis (lapisan otot).
3. Tumika submukosa.
4. lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

E. MANIFESTASI KLINIK
Haemarturi tanpa nyeri adalah tanda yang paling sering pada CA kandung kemih dan terjadi pada 75 % semua kasus, sayangnya perdarahan bersifat intermittent. Yang paling sering menyebabkan keterlambatan dalam mencari bantuan kesehatan ketika penyakit berlanjut.
Klien dapat mendapat gangguan frekwensi berkemih (bak) dengan Dysuria. Akhirnya terjadi Gross haematuria, obstruksi atau terjadi pistula yang memaksa klien untuk mencari pertolongan medis.

F. PEMERIKASAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi. Pada sistografi dan pielografi intravena nampak lesi defek isian dalam kandung kemih. Endoskopy dilakukan untuk melihat bentuk dan besar tumor. Perubahan dalam kandung kemih,dan melakukan biopsy. Pemeriksaan sitologi membantu diagnosis.
Karsinoma kandung kemih perlu dibedakan dari tumor ureter yang menonjol da;am kandung kemih,karsinoma prostat,dan hipertrofi prostat lobus median prostat. Untuk membedakan kelainan ini dibutuhkan Endoscopy dan Biopsy,urografi atau IVP,Ct Scen,USG dan sitoscopy.
Tingkat keganasan dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : Deferensiasi baik (G I),sedang (G II),dan kurang berdiferensiasi (G III)
Karsinoma sel transisional dan karsinoma in-situ akan melepaskan sel-sel kanker yang dapat dikenali,pemeriksaan sitologi urine yang baru dan larutan salin yang digunakan sebagai pembilas kandung kemih akan memberikan informasi tentang prognosis paien,khususnya pasien yang beresiko tinggi untuk terjadinya tumor primer kandung kemih.

G. PENATALAKSANAAN
Terapi endoscopik merupakan terapi baku karsinoma suerfisialis melalui reseksi trasuretral tumor secara total. Rencana pasca bedah selanjutnya sangat menentukan hasil terapi.
Sitoscopi untuk mengontrol kekambuhan biasanya diadakan setiap tiga bulan selama satu tahun dan kemudian setiap enam bulan,kecuali untuk reseksi tumor sampai disubmukosa. Endoscopi juga dipakai untuk fulgerasi dan terapi laser.
Radiasi diberikan setelah reseksi transuretral karsinoma kandung kemih superfisialis atau setelah sistektomi. Radiasi juga dipakai untuk penyembuhan pada stadium T3 yang tidak tahan pembedahan besar atau sebagai terapi paliatif tumor T4. kadang radiasi diperlukan sebagai terapi paliatif untuk menghentikan perdarahan atau gejala metastase pada karsinoma lanjut.
Kemoterapi diberikan setelah reseksi trasuretral karsinoma superfisialis. Kemoterapi secara intravesikal bertujuan mengurangi kemungkinan berkambuh. Kemoterapi yang digunakan adalah tiotepa,adriamisin,doksorubbisin,mitomisin C,dan bCG. Instilasi bcg sebenarnya merupakan terapi imunologik intravesikal dengan vaksin basil Calmette-Guerin. Vasin ini meupakan vaksin hidup. Penderita,dokter dan perawat harus menyadari hal tersebut dan memperhatikan keberhasilan sewaktu dan setelah buang air kecil.
Pembedahan dilakukan kalau penyebaran karsinoma sudah sampai otot kandung kemih. Ada tiga macam pembedahan yang bias dipilih yaitu : sistektomi parsial,sistektomi total,dan sistektomi radikal. Indikasi sistektomi parsial adalah tumor soliter yang berbatas tegas pada mukosa. Sistektomi total merupakan terapi definitive untuk karsinoma superfisialis yang kambuh. Sistektomi radikal merupakan pilihan kalau terapi lain tidak berhasil atau timbul kekambuhan. Cara diversi kemih yang paling baik adalah uretro-enterokutancostomi dengan menggunakan sebagian usus halus menurut Bricker atau urostoma kontinen dengan sejenis katup menurut kock.
Prognosis tergantung tingkat pengluasan dan derajat keganasan. Secara klinik dapat ditemukan dua jenis gambaran,yaitu pertumbuhan superfisia dan yang bertumbuh invasive dari permulaan.
Biasanya pada karsinoma kandung kemih superfisialis penderita berulang-ulang ditangani dengan sitoscipi untuk mengontrol reseksi local dan instilasi kemoterapi. Kebanyakan tidak akan mengalamin metastase sehinga prognosis ketahanan hidup agak baik. Walaupun morbiditasnya cukup berat.
Penderita dengan karsinoma kandung kemih invasive mengalami riwayat penyakit yang lain sekali. Ternyata sekitar 90 % tidak pernah mempunyai gambaran klinik karsinoma superfisialis,dan kurang lebih setengahnya sudah bermetastase jauh samar (okul) yang kebanyakan menjadi jelas dalam waktu satu tahun. Prognosisnya buruk dalam waktu satu-dua tahun.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
b. Riwayat keperawatan
1. Riwayat penyakit sekarang
2. Riwayat penyakit masa lalu
3. Riwayat kesehatan keluarga, penyakit yang pernah diderita anggota keluarga yang menjadi faktor resiko.
4. riwayat psikososial dan sepriritual
5. kondisi lingkungan rumah
6. Kebiasaan sehari-hari (pola eliminasi bak,pola aktivitas dan latihan,pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan (rokok,ketergantungan obat,minuman keras),
c. Pemeriksaan fisik
Nyeri /ktidak nyamanan : nyeri tekan abdomen,nyeri tekan pada area ginjal pada saat palpasi,nyeri dapat digambarkan sebagai acut,hebat,tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain

B. RENCANA KEPERAWATAN

Perubahan kenyamanan nyeri b/d trauma jaringan

Kriteria hasil :
Individu akan
1. Memperlihatkan bahwa orang lain membenarkan nyeri itu ada.
2. Memperlihatkan pengurangan nyeri setelah melakukan tindakan penurunan rasa nyeri yang memuaskan.
Anak-anak akan, berdasarkan usia dan kemampuannya :
1. Mengidentifikasi sumber-sumber nyeri.
2. Mengidentifikasi aktivitas yang akan meningkatkan dan menurunkan nyeri.
3. Menggambarkan rasa nyaman dari orang-orang lain selama mengalami nyeri.

Intervensi :
1. Tingkatkan pengetahuan
a. Jelaskan sebab-sebab nyeri kepada individu, jika diketahui.
b. Menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung, jika diketahui.
c. Jelaskan pemeriksaan diagnostik dan prosedur secara detail dengan menghubungkan ketidaknyamanan dan sensasi yang akan dirasakan, dan perkiraan lamanya terjadi nyeri.
2. Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut.
3. Hubungkan penerimaan anda tentang respons individu terhadap nyeri.
a. Mengenali adanya rasa nyeri.
b. Mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai nyeri.
c. Memperlihatkan bahwa anda sedang mengkaji nyeri karena anda ingin mengerti lebih baik (bukan untuk menentukan apakah nyeri tersebut benar-benar ada).
4. Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep tentang nyeri atau penanganannya.
5. Bicarakan alasan-alasan mengapa individu dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (mis; keletihan meningkatkan nyeri, distraksi menurunkan nyeri).
a. Berikan dorongan anggota keluarga untuk saling menceritakan rasa prihatinnya secara pribadi.
b. Kaji apakah keluarga menyangsikan nyeri dan bicarakan pengaruhnya pada individu yang mengalami nyeri.
c. Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan.
6. Berikan kesempatan kepada individu untuk istirahat selama siang dan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari.
7. Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi, bersamaan dengan metode lain untuk menurunkan nyeri.
8. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut, bernapas dengan teratur.
9. Ajarkan penurunan nyeri noninvasif
a. Relaksasi
- Intruksikan teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri.
- Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat.
- Ajarkan teknik relaksasi khusus (mis; bernapas perlahan, teratur, dan napas dalam-kepalkan tinju-menguap)
b. Stimulasi kutan
- Bicarakan dengan individu berbagai metoda stimulasi kulit dan efek-efeknya pada nyeri.
- Bicarakan setiap metoda berikut ini dan tindakan kewaspadaannya:
Botol air panas
Bantalan pemanas listrik
Mandi rendam air hangat
Kantung panas lembab
Hangatnya sinar matahari
Selimut dari plastik diatas area yang sakit untuk menahan panas tubuh (mis;lutut, siku)
- Bicarakan setiap metoda berikut dan tindakan kewaspadaannya:
Handuk dingin (diperas)
Rendaman air dingin
Kantung es
Kantung jeli dingin
Masase es
- Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol dan masase/pijat punggung.
10. Berikan individu pengurang rasa sakit yang optimal dengan analgesik.
11. Setelah pemberian pengurang rasa sakit, kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji efektifitasnya.
12. Berikan informasi yang akurat untuk meluruskan kesalahan konsep pada keluarga (mis; ketagihan, ragu-ragu tentang nyeri).
13. Berikan individu kesempatan untuk membicarakan ketakutan, marah, dan rasa frustrasinya di tempat tersendiri, pahami kesukaran situasi.
14. Berikan dorongan individu untuk membicarakan pengalaman nyerinya.

Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan melemahnya daya tahan penjamu sekunder terhadap terapi radiasi

Kriteria hasil
Individu akan :
1. Memperlihat teknik cuci tangan yang sangat cermat.
2. Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di rumah sakit
3. Memperlihatkan kemampuan tentang faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi

Intervensi
1. Identifikasi individu yang berisiko terhadap infeksi nosokomial
a. Kaji terhadap prediktor
- Infeksi (prabedah)
- Operasi abdomen atau thoraks
- Operasi lebih dari 2 jam
- Prosedur genitouranius
- Instrumentasi (ventilator, pengisap, kateter, nebulizer, trakeostomi, alat pemantau invasif)
- Aestesia
b. Kaji terhadap faktor-faktor yang mengacaukan
- Usia lebih muda dari 1 tahun, atau lebih tua dari 65 tahun
- Obesitas
- Kondisi-kondisi penyakit yang mendasari (PPOK, DM, penyakit kardiovaskuler)
- Penyalahgunaan obat terlarang
- Status nutrisi
- Perokok
2. Kurangi organisme-organisme yang masuk ke dalam tubuh
a. Cuci tangan dengan cermat
b. Teknik antiseptik
c. Tindakan isolasi
d. Diagnostik yang perlu atau prosedur terapeutik
e. Pengurangan mikroorganisme yang dapat ditularkan melalui udara
3. Lindungi individu yang defisit imun dari infeksi
a. Instruksikan individu untuk meminta kepada seluruh pengunjung dan personil untuk mencuci tangan sebelum mendekati individu.
b. Batasi pengunjung bila memungkinkan
c. Batasi alat-alat invasif (IV, spesimen laboratorium) untuk yang benar-benar perlu saja.
d. Ajarkan individu dan anggota keluarga tanda dan gejala infeksi
4. Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi
a. Dorong dan pertahankan masukan kalori dan protein dalam diet (lihat Perubahan nutrisi).
b. Pantau penggunaan atau penggunaan berlebihan terapi antimikroba.
c. Berikan terapi antimikroba yang telah diresepkan dalam 15 menit dari waktu yang dijadwalkan
d. Minimalkan lamanya tinggal di rumah sakit
5. Amati terhadap manifestasi klinik infeksi (mis; demam, urine keruh, drainase purulen)
6. Instruksikan individu dan keluarga mengenal penyebab, risiko-risiko dan kekuatan penularan infeksi.
7. Laporkan penyakit-penyakit menular.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme:Kanker

Kriteria hasil
Individu akan :
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas
2. Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)
3. Memperlihatkan penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan darah, pernapasan)
4. Melaporkan reduksi gejala-gejala intoleransi aktivitas

Intervensi
1. Kaji respon individu terhadap aktivitas
a. Ukur nadi, tekanan darah, pernapasan saat istirahat
b. Ukur tanda vital segera dan 3 menit setelah istirahat.
c. Hentikan aktivitas klien bila :
- Keluhan nyeri dada, dispnoe, vertigo, kekacauan mental
- Frekwensi nadi menurun
- Tekanan sistolik menurun
- Tekanan diastolik meningkat 15 mmHg
- Frekwensi pernapasan menurun
d. Kurangi intensitas, frekwensi, lamanya aktivitas bila
- Frekwensi nadi lebih dari 3 menit untuk kembali frekwensi awal (atau 6 denyut lebih cepat dari frekwensi awal).
- Frekwensi pernapasan meningkat berlebihan setelah aktivitas.
- Terdapat tanda-tanda hipoksia.
2. Meningkatkan aktivitas secara bertahap
a. Untuk klien yang pernah tirah baring lama, mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
b. Rencanakan waktu istirahat sesuai dengan jadwal sehari-hari klien.
c. Berikan kepercayaan kepada klien bahwa mereka dapat meningkatkan status mobilitasnya.
d. Beri penghargaan pada kemajuan yang dicapai.
e. Beri kesempatan klien membuat jadwal aktivitas dan sasaran pencapaian.
f. Tingkatkan toleransi dengan membiarkan klien melakukan aktivitas yang lebih lambat, lebih banyak istirahat, atau dengan banyak bantuan.
g. Secara bertahap tingkatkan aktivitas diluar tempat tidur 15 menit setiap hari, tiga kali sehari.
h. Izinkan klien untuk mengatur frekwensi ambulasi.
i. Anjurkan klien untuk memakai alas kaki yang nyaman.
3. Ajarkan klien metoda penghematan energi untuk aktivitas.
a. Luangkan waktu untuk istirahat.
b. Lebih baik duduk daripada berdiri saat melakukan aktivitas, kecuali hal ini memungkinkan.
c. Saat melakukan suatu aktivitas, istirahat setiap 3 menit selama 5 menit untuk membiarkan jantung pulih.
d. Hentikan aktivitas jika keletihan atau terlihat tanda-tanda hipoksia.
4. Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk program latihan jangka panjang.
5. Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan.

Perubahan pola elimunasi urinarius berhubungan dengan penurunan kapasitas kandung kemih sekunder terhadap kanker

Kriteria hasil
Individu akan
1. Menjadi kontinen (terutama selama siang hari, malam, 24 jam)
2. Mampu mengidentifikasi penyebab inkontinens dan rasional untuk pengobatan

Intervensi
1. Pertahankan hidrasi optimal
a. Tingkatkan hidrasi 2000-3000 ml/hari, kecuali ada kontraindikasi.
b. Bagi jarak cairan setiap 2 jam
c. Kurangi masukan cairan setelah jam 19.00
2. Pertahankan nutrisi yang adekuat
3. Tingkatkan berkemih
a. Pastikan privasi dan rasa nyaman.
b. Gunakan fasilitas toilet, jika mungkin, daripada bedpan
c. Berikan klien pria kesempatan berdiri.
d. Bantu individu dengan bedpan untuk memfleksikan lututnya.
4. Tingkatkan integritas personal dan berikan motivasi untuk meningkatkan kontrol kandung kemih.
5. Tunjukkan pada individu bahwa inkontinens dapat disembuhkan atau sedikitnya dikontrol untuk mempertahankan martabat.
6. Harapkan pada individu untuk menjadi kontinen (mis; sarankan menggunakan pakaian ketat, jangan sarankan menggunakan bedpan)
7. Tingkatkan integritas kulit
a. Identifikasi individu yang berisiko mengalami ulkus akibat tekanan.
b. Cuci area, bilas, dan keringkan dengan baik setelah episiode inkontinens.
c. Gunakan salep pelindung, jika diperlukan.
8. Jadwalkan masukan cairan dan waktu berkemih.
9. Jadwalkan program keteterisasi intermitten
10. Ajarkan pencegahan ISK
a. Beri dorongan pengosongan kandung kemih secara teratur.
b. Pastikan masukan cairan yang adekuat.
c. Jaga keasaman urine, hindari jus jeruk nipis, cola pekat, kopi.

Download askep Kanker Kandung Kemih :

AsuhanKeperawatan.com | Ziddu.com


May 29, 2009 in Asuhan Keperawatan by Hendi, S.Kep

selanjutnya ►►

LOW BACK PAIN

strain

A. DEFINISI.

Low back Pain dipersepsikan ketidak nyamanan berhubungan dengan lumbal atau area sacral pada tulang belakang ataui sekitar jaringan ( Randy Mariam,1987 ).

Low Back Pain adalah suatu tipe nyeri yang membutuhkan pengobatan medis walaupun sering jika ada trauma secara tiba-tiba dan dapat menjadi kronik pada masalah kehidupan seperti fisik,mental,social dan ekonomi (Barbara).

Low Back Pain adalah nyeri kronik didalam lumbal,biasanya disebabkan oleh terdesaknya para vertebral otot, herniasi dan regenerasi dari nucleus pulposus,osteoartritis dari lumbal sacral pada tulang belakang (Brunner,1999).


Low Back Pain terjadi dilumbal bagian bawah,lumbal sacral atau daerah sacroiliaca,biasanya dihubungkan dengan proses degenerasi dan ketegangan musulo (Prisilia Lemone,1996).

Low back pain dapat terjadi pada siapasaja yang mempunyai masalah pada muskuloskeletal seperti ketegangan lumbosacral akut,ketidakmampuan ligamen lumbosacral,kelemahan otot,osteoartritis,spinal stenosis serta masalh pada sendi inter vertebra dan kaki yang tidak sama panjang (Lucman and Sorensen’s 1993).

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan Low Back Pain adalah nyeri kronik atau acut didalam lumbal yang biasanya disebabkan trauma atau terdesaknya otot para vertebra atau tekanan,herniasi dan degenerasi dari nuleus pulposus,kelemahan otot,osteoartritis dilumbal sacral pada tulang belakang.


B. ANATOMI DAN FISIOLOGI

 Guna kerangka.

1. Menahan seluruh bagian-bagian badan (Menopang tubuh).

2. Melindungi alat tubuh yang halus seperti otak,jantung dan paru-paru.

3. Tempat melekatnya otot-otot dan pergerakan tubuh dengan perantaraan otot.

4. tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah.


5. Memberi bentuk pada bangunan tubuh.

 Ruas-ruas tulang belakang.

Bentuk dari tiap-tiap ruas tulang belakang pada umumnya sama,hanya ada bedanya sedikit tergantung pada kerja yang ditanganinya.

Ruas-ruas ini terdiri atas beberapa bagian :

1. badan ruas merupakan bagian yang terbesar,bentuknya tebal dan kuat,terletak disebelah depan.

2. Lengkung luas.

Bagian yang melingkaridan melindungi lubang luas tulang belakang terletak di sebelah belang dan pada bagian ini terdapat tonjolan yaitu :

a. prosesus spinosus / taju duri.

Terdapat ditengah-tengah lengkung luas,menonjol kebelakang.


b. Prosesus tranversum / taju sayap.

Terdapat disamping kiri dan kanan lengkung luas.

c. Prosesus artikulasi / taju penyendi.

Membentuk persendian dengan ruas tulang belakang (vertebralis).

 Fungsi ruas tulang belakang.

1. Menahan kepela dan alat-alat tubuh yang lain..

2. Melindungi alat halus yang ada didalamnya (sum-sum belakang).

3. Tempat melekatnya tulang iga dan tulang pinggul.

4. Menentukan sikap tubuh.


Ruas-ruas tulang belakang ini tersusun dari atas kebawah dan diantara masing-masing ruas dihubungkan oleh tulang rawan yang disebut cakram antara ruas sehingga tulang belakang bias tegak dan membungkuk. Disamping itu disebelah depan dan belakangnya terdapat kumpulan serabut-serabut kenyal yang memperkuat kedudukan ruas tulang belakang.

Ditengah-tengah bagian ruas-ruas tulang belakang terdapat pula suatu saluran yang disebut saluran sum-sum belakang (kanalis medulla spinalis) yang didalamnya terdapat sum-sum tulang belakang.

 Bagian-bagian dari ruas tulang belakang.

1. Vertebra sedrvikalis (tulang leher) 7 ruas mempunyai badan ruas kecil dan lubang ruasnya besar. Pada tagu sayapnya terdapat lubang tempat lalunya syarap yang disebut For Amentuam Versalis (Foramentuan Versorium). Ruas pertama vertebra servikalis disebut Atlas yang memungkinkan kepala berputar kekiri dan kekanan. Ruas kedua disebut prosesus ke 7 mempunyai taju yang disebut Prosesus Prominan,taju ruiasnya agak panjang.

2. Vertebra Torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas,badan ruasnya besar dan kuat. Taju durinya panjang dan melengkung,pada daerah bagian dataran sendi sebelah atas,bawah,kiri dan kanan ini membentuk persendian dengan tulang iga.

3. vertebra lumbalis (tulang pinggul0 terdiri dari 5 ruas,badan ruasnya besar,tebal dan kuat. Taju durinya agak picak bagi ruas dari ruas ke 5 agak menonjol disebut Promontorium.

4. vertebra Koksigius (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas. Ruas-ruasnya kecil dan menjadi sebuah tulang yang disebut Os Koksigialis dapat bergerak sedikit karena membentuk persendian dengan sacrum.

Lengkung kolumna vertebralis dilihat dari samping kolumna Vertebralis memperlihatkan 4 kurva atau lengkung. Lengkung vertikel daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang. Daerah lumbal melengkung kedepan dan derah pelvis melengkung kebelakang. Lengkung servikal berkembang ketika masih kanak-kanak. Sebagai contoh ketika ia merangkak,berdiri dan berjlan mempertahankan tegak.

Sendi kolumna vertebralis dibentuk oleh bantalan tulang rawan yang dilekatkan diantara tiap-tiap vertebra dikuatkan oleh luigamentum yang berjalan didepan dan dibelakang vertebra sepanjang kolumna vertebralis.


Cakram antar adalah bantalan tebal dari tulang rawan fibrosa yang terdapat diantara badan vertyebra yang dapat menggerak-gerakan sendi dibentuk antara cakram dan vertebra dengan gerakan yang terbatas dan gerakan dapat fleksi,ekstensi dan lateral samping kiri dan samping kanan.

Fungsi vertebralis sebagai penopang badan yang kokoh sekaligus bekerja sebagai penyangga dengan perantara tulang rawan cakram. Intervertebralis yang lengkungnya memberi flesibilitas memungkinkan membengkok tanpa patah.

Cakram juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakan badan seperti waktu berlari dan melompat. Dengan demikian otak dan sum-sum belakang terlindung oleh guncangan. Kolumna vertebralis juga menopang berat badan permukaan berkaitan dengan otot mem,bentuk tapal batas posterior yang kokoh untuk rongga-rongga badan dan kaitan pada iga.


C. ETIOLOGI.

 Perubahan postur tubuh biasanya karena trauma primer dan sekunder.

Trauma primer seperti : Trauma secara spontan, contohnya kecelakaan.

Trauma sekunder seperti : Adanya penyakit HNP, osteoporosis, spondilitis, stenosis spinal, spondilitis,osteoartritis.

 Ketidak stabilan ligamen lumbosacral dan kelemahan otot.

 Prosedur degenerasi pada pasien lansia.


 Penggunaan hak sepatu yang terlalu tinggi.

 Kegemukan.

 Mengangkat beban dengan cara yang salah.

 Keseleo.

 Terlalu lama pada getaran.

 Gaya berjalan.

 Merokok.

 Duduk terlalu lama.

 Kurang latihan (oleh raga).


 Depresi /stress.

 Olahraga (golp,tennis,sepak bola).


D. MANIFESTASI KLINIK.

1. Perubahan dalam gaya berjalan.

 Berjalan terasa kaku.

 Tidak bias memutar punggung.

 Pincang.

2. Persyarapan

 Ketika dites dengan cahaya dan sentuhan dengan peniti,pasien merasakan sensasi pada kedua anggota badan,tetapi mengalami sensasi yang lebih kuat pada daerah yang tidak dirangsang.


 Tidak terkontrol Bab dan Bak.

3. Nyeri.

 Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.

 Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.

 Nyeri otot dalam.

 Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.

 Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.

 Nyeri pada pertengahan bokong.

 Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.



F. FAKTOR RESIKO UNTUK LOW BACK PAIN.

Factor resiko Low back Pain :

1. Faktor resiko secara fisiologi.

 Umur ( 20 – 50 tahun ).

 Kurangnya latihan fisik.

 Postur yang kurang anatomis.

 Kegemukan.

 Scoliosis parah.

 HNP.


 Spondilitis.

 Spinal stenosis ( penyempitan tulang belakang ).

 Osteoporosis.

 Merokok.

2. Faktor resiko dari lingkungan.

 Duduk terlalu lama.

 Terlalu lama pada getaran.

 Keseleo atau terpelintir.

 Olah raga ( golp,tennis,gymnastik,dan sepak bola ).


 Vibrasi yang lama.

3. Faktor resiko dari psikososial.

 Ketidak nyamanan kerja.

 Depresi.

 Stress.


G. EVALUASI DIAGNOSTIK

Prosedur perlu dilakukan pada pasien yang menderita nyeri punggung bawah.

1. Sinar X vertebra ; mungkin memperlihatkan adanya fraktur,dislokasi,infeksi,osteoartritis atau scoliosis.

2. Computed tomografhy ( CT ) : berguna untuk mengetahui penyakit yangmendasari seperti adanya lesi jaringan lunak tersembunyi disekitar kolumna vertebralis dan masalah diskus intervertebralis.


3. Ultrasonography : dapat membantu mendiagnosa penyempitan kanalis spinalis.

4. Magneting resonance imaging ( MRI ) : memungkinkan visualisasi sifat dan lokasi patologi tulang belakang.

5. Meilogram dan discogram : untuk mengetahui diskus yang mengalami degenerasi atau protrusi diskus.

6. Venogram efidural : Digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis dengan memperlihatkan adanya pergeseran vena efidural.

7. Elektromiogram (EMG) : digunakan untuk mengevaluasi penyakit serabut syaraf tulang belakang ( Radikulopati ).


H. PENATALAKSANAAN.

Kebanyakan nyeri punggung bias hilang sendiri dan akan sembuh dalam 6 minggu dengan tirah baring. Pengurangan stress dan relaksasi. Pasien harus tetap ditempatkan tidur dengan matras yang padat dan tidak tebal. Selama 2 – 3 hari ( dapat digunakan kayu penyangga tempat tidur ). Posisi pasien dibuat sedemikian rupa,sehingga flesi lumbal lebih besar,yang dapat mengurangi tekanan pada serabut saraf lumbal. Bagian kepala tempat ditinggikan 30 dan pasien sedikit menekuk lututnya. Posisi tengkurap dihindari karena akan memperberat lordosis.

Kadang-kadang pasien perlu dirawat untuk penanganan “konserpatif aktif” dan fisiotherafi pelvic intermiten beban traksi 7 – 13 Kg. Traksi memungkinkan penambahan fleksi lumbal dan relaksasi otot tersebut.

Fisiotherapi perlu diberikan untuik mengurangi nyeri,spasme otot,terafi bias meliputi terafi pendinginan,pemanasan sinar infra merah, kompres lembab panas,gelombang ultra,diatermi,traksi. Gelombang ultra akan menimbulkan panas ini berkontra indikasi pada pasien penderita kanker atau penderita kelainan perdarahan.


Obat-obatan yang mungkin perlu diberikan untuk menangani nyeri akut,analgetik narkotik digunakan untuk membuat relaks pasien dan otot yang mengalami spasme otot,obat anti implamasi seperti aspirin dan obat anti inplamasi non steroid ( NSAID ).


I. RENCANA KEPERAWATAN

Perubahan Kenyamanan : nyeri bd refleks spasme otot

Data

Subjektif :

Komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri yang dideskripsikan.

Objektif :

Perilaku yang sangat hati-hati, perlindungan.

Memusatkan diri.


Mempersempit fokus (perubahan persepsi waktu, gangguan proses berpikir).

Perilaku distraksi (mengerang, menangis, mondar-mandir, mencari orang lagi, gelisah).

Raut wajah kesakitan (mata kuyu, terlihat lelah, meringis)

Perubahan tonus otot (tidak bergairah sampai kaku)

Respons-respons autonom (diaforesis, perubahan tekanan darah dan nadi), dilatasi pupil, perubahan frekwensi napas.


Kriteria hasil :

Individu akan

1. Memperlihatkan bahwa orang lain membenarkan nyeri itu ada.

2. Memperlihatkan pengurangan nyeri setelah melakukan tindakan penurunan rasa nyeri yang memuaskan.


Anak-anak akan, berdasarkan usia dan kemampuannya :

1. Mengidentifikasi sumber-sumber nyeri.

2. Mengidentifikasi aktivitas yang akan meningkatkan dan menurunkan nyeri.

3. Menggambarkan rasa nyaman dari orang-orang lain selama mengalami nyeri.


Intervensi :

1. Tingkatkan pengetahuan

a. Jelaskan sebab-sebab nyeri kepada individu, jika diketahui.

b. Menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung, jika diketahui.

c. Jelaskan pemeriksaan diagnostik dan prosedur secara detail dengan menghubungkan ketidaknyamanan dan sensasi yang akan dirasakan, dan perkiraan lamanya terjadi nyeri.


2. Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut.

3. Hubungkan penerimaan anda tentang respons individu terhadap nyeri.

a. Mengenali adanya rasa nyeri.

b. Mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai nyeri.

c. Memperlihatkan bahwa anda sedang mengkaji nyeri karena anda ingin mengerti lebih baik (bukan untuk menentukan apakah nyeri tersebut benar-benar ada).

4. Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep tentang nyeri atau penanganannya.

5. Bicarakan alasan-alasan mengapa individu dapat mengalami peningkatan atau penurunan nyeri (mis; keletihan meningkatkan nyeri, distraksi menurunkan nyeri).

a. Berikan dorongan anggota keluarga untuk saling menceritakan rasa prihatinnya secara pribadi.

b. Kaji apakah keluarga menyangsikan nyeri dan bicarakan pengaruhnya pada individu yang mengalami nyeri.


c. Anjurkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian walaupun nyeri tidak diperlihatkan.

6. Berikan kesempatan kepada individu untuk istirahat selama siang dan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari.

7. Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi, bersamaan dengan metode lain untuk menurunkan nyeri.

8. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut, bernapas dengan teratur.

9. Ajarkan penurunan nyeri noninvasif

a. Relaksasi

- Intruksikan teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri.

- Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau mandi air hangat.

- Ajarkan teknik relaksasi khusus (mis; bernapas perlahan, teratur, dan napas dalam-kepalkan tinju-menguap)


b. Stimulasi kutan

- Bicarakan dengan individu berbagai metoda stimulasi kulit dan efek-efeknya pada nyeri.

- Bicarakan setiap metoda berikut ini dan tindakan kewaspadaannya:

Botol air panas

Bantalan pemanas listrik

Mandi rendam air hangat

Kantung panas lembab

Hangatnya sinar matahari

Selimut dari plastik diatas area yang sakit untuk menahan panas tubuh (mis;lutut, siku)


- Bicarakan setiap metoda berikut dan tindakan kewaspadaannya:

Handuk dingin (diperas)

Rendaman air dingin

Kantung es

Kantung jeli dingin

Masase es

- Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol dan masase/pijat punggung.

10. Berikan individu pengurang rasa sakit yang optimal dengan analgesik.

11. Setelah pemberian pengurang rasa sakit, kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji efektifitasnya.


12. Berikan informasi yang akurat untuk meluruskan kesalahan konsep pada keluarga (mis; ketagihan, ragu-ragu tentang nyeri).

13. Berikan individu kesempatan untuk membicarakan ketakutan, marah, dan rasa frustrasinya di tempat tersendiri, pahami kesukaran situasi.

14. Berikan dorongan individu untuk membicarakan pengalaman nyerinya.


Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakaktifan sekunder terhadap nyeri

Data yang harus ada

Perubahan respons terhadap aktivitas

Pernapasan :

Dispnoe

Takipnoe


Sesak napas

Nadi

Lemah

Frekwensi menurun

Frekwensi meningkat

Tekanan darah

Gagal meningkat dengan aktivitas

Diastolik meningkat 15 mmHg


Data yang mungkin ada :


Pucat atau sianosis

Kekacauan mental

Kelemahan

Keletihan

Vertigo


Kriteria hasil

Individu akan :

1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas

2. Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin)


3. Memperlihatkan penurunan tanda-tanda hipoksia terhadap aktifitas (nadi, tekanan darah, pernapasan)

4. Melaporkan reduksi gejala-gejala intoleransi aktivitas


Intervensi

1. Kaji respon individu terhadap aktivitas

a. Ukur nadi, tekanan darah, pernapasan saat istirahat

b. Ukur tanda vital segera dan 3 menit setelah istirahat.

c. Hentikan aktivitas klien bila :

- Keluhan nyeri dada, dispnoe, vertigo, kekacauan mental

- Frekwensi nadi menurun


- Tekanan sistolik menurun

- Tekanan diastolik meningkat 15 mmHg

- Frekwensi pernapasan menurun

d. Kurangi intensitas, frekwensi, lamanya aktivitas bila

- Frekwensi nadi lebih dari 3 menit untuk kembali frekwensi awal (atau 6 denyut lebih cepat dari frekwensi awal).

- Frekwensi pernapasan meningkat berlebihan setelah aktivitas.

- Terdapat tanda-tanda hipoksia.

2. Meningkatkan aktivitas secara bertahap

a. Untuk klien yang pernah tirah baring lama, mulai melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.


b. Rencanakan waktu istirahat sesuai dengan jadwal sehari-hari klien.

c. Berikan kepercayaan kepada klien bahwa mereka dapat meningkatkan status mobilitasnya.

d. Beri penghargaan pada kemajuan yang dicapai.

e. Beri kesempatan klien membuat jadwal aktivitas dan sasaran pencapaian.

f. Tingkatkan toleransi dengan membiarkan klien melakukan aktivitas yang lebih lambat, lebih banyak istirahat, atau dengan banyak bantuan.

g. Secara bertahap tingkatkan aktivitas diluar tempat tidur 15 menit setiap hari, tiga kali sehari.

h. Izinkan klien untuk mengatur frekwensi ambulasi.

i. Anjurkan klien untuk memakai alas kaki yang nyaman.

3. Ajarkan klien metoda penghematan energi untuk aktivitas.


a. Luangkan waktu untuk istirahat.

b. Lebih baik duduk daripada berdiri saat melakukan aktivitas, kecuali hal ini memungkinkan.

c. Saat melakukan suatu aktivitas, istirahat setiap 3 menit selama 5 menit untuk membiarkan jantung pulih.

d. Hentikan aktivitas jika keletihan atau terlihat tanda-tanda hipoksia.

4. Instruksikan klien untuk konsulasi kepada dokter atau ahli terapi fisik untuk program latihan jangka panjang.

5. Rujuk kepada perawat komunitas untuk tindak lanjut jika diperlukan


Risiko kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek-efek iritan mekanika atau tekanan sekunder terhadap tirah baring

Data mayor

Gangguan kornea, integumen, atau jaringan membran mukosa atau invasi struktur tubuh (insisi, ulkus dermal, ulkus kornea, lesi oral)



Data minor

Lesi

Edema

Eritema

Kekeringan membran mukosa

Leukoplakia

Lidah kotor


Kriteria hasil

Individu akan :


1. Mengidentifikasi penyebab kerusakan jaringan mekanik.

2. Berpartisipasi dalam perencanaan untuk meningkatkan penyembuhan luka.

3. Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka jaringan.


Intervensi

1. Anjurkan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi untuk menghindari periode tekanan yang lama.

2. Untuk kerusakan neuromuskular

a. Ajarkan klien/orang terdekat tindakan yang tepat untuk mencegah tekanan, robekan, gesekan, maserasi.

b. Ajarkan untuk mengenali tanda-tanda awal kerusakan jaringan

c. Ubah posisi sedikitnya setiap 2 jam.


d. Dengan sering tingkatkan perputaran tubuh dengan pengangkatan minor dalam berat badan.

3. Jaga kulit tetap bersih dan kering.

4. Hindari pengelupasan epidermis saat melepas plester.

5. Gunakan alat yang menyebarkan tekanan jika diperlukan

6. Batasi posisi kepala pada klien berisiko tinggi sampai kurang dari 30ยบ. Hindari penggunaan tempat tidur yang bagian lututnya dapat terlipat.

7. Gunakan metoda untuk menampung inkontinensia usus atau kandung kemih.

8. Ajarkan aplikasi yang tepat dari kantong stoma.

9. Gunakan teknik kantong stoma untuk menahan drainase dari fistula/ulkus.

10. Anjurkan sabun ringan yang tidak merubah pH kulit.


11. Ajarkan menggunakan sarung tangan/baju pelindung apabila menggunakan produk kimia dalam lingkungan pekerjaan.


Kerusakan integritas jaringan kulit


Definisi

Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kerusakan jaringan epidermis dan dermis.


Faktor yang berhubungan

(Lihat kerusakan integritas jaringan)


Data mayor

Gangguan jaringan kulit epidermis dan dermis


Data minor


Pencukuran kulit

Eritema

Lesi

Pruritus


Kriteria hasil

Individu akan :

1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab untuk ulkus karena tekanan.

2. mengidentifikasi rasional untuk pencegahan dan pengobatan.

3. berpartisipasi dalam rencana pengobatan yang dianjurkan untuk meningkatkan penyembuhan luka.


4. Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka ulkus dermis.


Intervensi

1. Identifikasi tahap perkembangan ulkus dekubitus

a. Tahap I : Eritema yang tidak memutih dari kulit yang utuh.

b. Tahap II : Ulserasi pada epidermis dan/atau dermis.

c. Tahap III : Ulserasi meliputi lemak sub kutan

d. Tahap IV : Ulserasi menembus otot rangka atau struktur penunjang.

2. Cuci area yang kemerahan dengan lembut menggunakan sabun ringan, bilaslah seluruh area dengan bersih untuk menghilangkan sabun dan keringkan.

3. masase dengan lembut kulit sehat disekitar area yang sakit untuk merangsang sirkulasi; jangan masase area jika tampak kemerahan.


4. Lindungi permukaan kulit yang sehat dengan satu atau kombinasi berikut.

a. Oleskan lapisan tipis cairan coplymer skin sealant.

b. Tutup area dengan balutan film permeable lembab.

5. Tingkatkan masukan protein dan karbohidrat untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif; timbang individu setiap hari dan tentukan kadar albumin serum setiap minggu untuk memantau status.

6. Pikirkan rencana penatalaksanaan luka tekan dengan menggunakan prinsip-prinsip penyembuhan luka :

a. Kaji status luka tekan (warna, bau, jumlah drainase dari luka dan sekeliling kulit)

b. Bersihkan jaringan nekrotik (kolaborasi dengan dokter)

c. Bilas dasar ulkus dengan cairan salin steril.

d. Lindungi tepi luka yang sedang granulasi dari trauma.


e. Tutup luka tekan dengan balutan steril sehingga dapat mempertahankan lingkungan di atas dasar ulkus tetap lembab (mis; balitan film, balutan kassa lembab).

f. Hindari agen-agen yang dapat mengeringkan (lampu pemanas, cream magnesium).

g. Pantau tanda-tanda klinis dari infeksi luka.

7. Kunsulkan dengan perawat spesialis atau dokter untuk pengobatan luka tekan tahap IV.

8. Rujuk ke agensi keperawatan komunitas jika diperlukan tambahan bantuan di rumah.


Risiko kerusakan jaringan kulit


Kriteria hasil

Individu akan :

1. Mengekspresikan hasrat untuk ikut serta dalam pencegahan luka tekan.


2. Menggambarkan etiologi dan tindakan-tindakan pencegahan.

3. Memperlihatkan integritas kulit bebas dari luka tekan.


Intervensi

1. Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk hidrasi yang adekuat ( + 2500 ml/hari, kecuali ada kontraindikasi). Periksa membran mukosa dalam mulut terhadap kelembaban dan periksa berat jenis urine.

2. Tetapkan jadwal untuk pengosongan kandung kemih (mulai dengan setiap 2 jam). Jika individu mengalami kekacauan mental, tetapka bagaimana pola kontinens dan lakukan intervensi sebelum terjadi inkontinens. Jelaskan masalah kepada individu dan pastikan kerjasama untuk perencanaan.

3. Apabila terjadi inkontinens, cuci perineum dengan cabun cair yang tidak merubah pH kulit dan oleskan pelindung untuk daerah perineal (pembersih).

4. Berikan dorongan latihan rentang gerak dan mobilitas gerak badan, bila mungkin.

5. Ubah posisi atau instruksikan individu untuk berbalik atau mengangkat badan setiap 30 menit sampai 2 jam, tergantung pada faktor penyebab lain dan kemampuan kulit untuk pulih dari tekanan.

6. frekwensi dari jadwal mengubah posisi tubuh harus ditingkatkan jika ada area yang memerah yang tampak tidak hilang dalam 1 jam.


7. Pertahankan tempat tidur sedatar mungkin untuk mengurangi kekuatan gesekan; batasi posisi fowler’s hanya 30 menit pada suatu waktu.

8. Gunakan jumlah staf yang cukup untuk mengangkat pasien di tempat tidur atau kursi daripada menarik atau mendorong permukaan kulit.

9. Instruksikan individu untuk mengangkat dirinya dengan menggunakan lengan kursi setiap 10 menit jika mungkin atau bantu individu bangkit dari kursi setiap 10-20 menit, tergantung pada faktor-faktor risiko yang ada.

10. Amati adanya eritema dan kepucatan, dan lakukan palpasi untuk mengetahui adanya kehangatan dan jaringan seperti spon pada setiap perubahan posisi.

11. Jangan gosok area kemerahan atau menggosok diatas tonjolan tulang.

12. Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif; timbang individu setiap hari dan tentukan kadar albumin serum setiap minggu untuk memantau status.

13. Instruksikan individu dan keluarga tentang teknik-teknik spesifik yang digunakan dirumah untuk mencegah ulkus akibat tekanan.


Download askep LBP :


AsuhanKeperawatan.com | Ziddu.com

POSTINGAN PERAWAT BLOGGER

selanjutnya ►►

ILLEUS OBSTRUKSI

illeus
A. DEFINISI

Obstruksi Illeus adalah gangguan aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. (Selvia A Price, Patologi)

B. ETIOLOGI

Penyebab terjadinya Obstruksi Illeus, antara lain :

 Kondisi traumatic, terutama setelah fraktur iga dan fraktur tulang belakang.


 Perlekatan karena pembedahan sebelumnya, sekitar 50 % terjadi pada usia pertengahan dan orang tua

 Tumor ganas

 Volvulus (usus yang terpelintir), paling sering terjadi pada pria tua dan biasanya mengenai kolon sigmoid

 Hernia inguinalis atau femoralis

 Benda asing, sering terjadi pada bayi dan anak

 Kelainan konginetal


C. TANDA DAN GEJALA

Gejala – gejala penting dari obstruksi Illeus adalah :

 Nyeri daerah umbilicus


 Muntah, sering terjadi bila obstruksi pada usus halus bagian atas

 Konstipasi absolut dan peregangan abdomen

D. PATOFISIOLOGI

Volvulus yang menjadi penyebab obstruksi illeus secara progesif akan teregang oleh cairan dan gas akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena sekitar 8 literr cairan diekskresi ke dalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorbsi mengakibatkan penimbunan di intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang, cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok-hipotensi, penurunan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asiidosis metabolic. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan penurunan absorbsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek local peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permebialitas akibat nekrsosis, distensi absorbsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Laboratorium

Peningkatan kadar Haemoglobin (indikasi dari dehidrasi), leukositosis, peningkatan PCO2 / asidosis metabolik

2. Rontgen abdomen

3. Sigmoidescopy


4. Colonoscopy

5. Radiogram barium


F. PENATALAKSANAAN

1. Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit

2. Intubasi dan dekompresi untuk menghilangkan peregangan dan muntah

3. Pembedahan


G. PENGKAJIAN

1. Identitas klien

2. Aktifitas / istirahat


Lemah, gelisah

3. Sirkulasi

Takikardia, berkeringat

4. Eliminasi

Perubahan warna urine dan feces, distensi abdomen

5. Makanan / cairan

Mual / muntah, nyeri epigastrium

6. Nyeri / kenyamanan

Adanya insisi pembedahan


7. Pernafasan

Peningkatan frekuensi pernafasan, pernafasan tertekan ditandai oleh nafas pendek, dangkal

8. Laboratorium

Antara lain : Hb/Ht, leukosit, trombisit, elektrolit, AGD


H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola nafas tidak efektif

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan

3. Gangguan integritas kulit


Download askep Illeus Obstruksi :


AsuhanKeperawatan.com | Ziddu.com

POSTINGAN PERAWAT BLOG

selanjutnya ►►

Rabu, 02 September 2009

KANKER PAYUDARA ( Ca MAMMAE )


A. PENGERTIAN CARSINOMA MAMMAE

Carsinoma mammae adalah neolasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995)

Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel – sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Lynda Juall Carpenito, 1995). 



B. ETIOLOGI

Menurut C. J. H. Van de Velde


1. Ca Payudara yang terdahulu

Terjadi malignitas sinkron di payudara lain karena mammae adalah organ berpasangan

2. Keluarga

Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae.

3. Kelainan payudara ( benigna )

Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.

4. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain

Status sosial yang tinggi menunjukkan resiko yang meningkat, sedangkan berat badan yang berlebihan ada hubungan dengan kenaikan terjadi tumor yang berhubungan dengan oestrogen pada wanita post menopouse.

5. Faktor endokrin dan reproduksi


Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun

Menarche kurang dari 12 tahun

6. Obat anti konseptiva oral

Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

C. GAMBARAN KLINIK

Menurut William Godson III. M. D

1. Tanda carsinoma

Kanker payudara kini mempunyai ciri fisik yang khas, mirip pada tumor jinak, massa lunak, batas tegas, mobile, bentuk bulat dan elips

2. Gejala carsinoma


Kadang tak nyeri, kadang nyeri, adanya keluaran dari puting susu, puting eritema, mengeras, asimetik, inversi, gejala lain nyeri tulang, berat badan turun dapat sebagai petunjuk adanya metastase.


D. ANATOMI


E. PATOFISIOLOGI

Carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada sistem duktal, mula – mula terjadi hiperplasia sel – sel dengan perkembangan sel – sel atipik. Sel – sel ini akan berlanjut menjadi carsinoma insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba ( kira – kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu kira – kira seperempat dari carsinoma mammae telah bermetastasis. Carsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah ( Price, Sylvia, Wilson Lorrairee M, 1995 )


Masalah keperawatan :

1. Nyeri berhubungan dengan manipulasi jaringan dan atau trauma karena pembedahan, interupsi saraf, diseksi otot.

2. Kerusakan integristas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi, adanya edema, destruksi jaringan.

3. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan drainase limpatik necrose jaringan.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan mammae dan atau perubahan gambaran mammae.


5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan carsinoma mammae dan pilihan pengobatan

6. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kemotherapi

7. Anxietas berhubungan dengan lingkungan Rumah Sakit yang tidak dikenal, ketidakpastian tentang hasil pengobatan carsinoma, perasaan putus asa dan tak berdaya dan ketidak cukupan pengetahuan tentang carsinoma dan pengobatan.


G. FOKUS PENGKAJIAN

1. Nyeri berhubungan dengan manipulasi jaringan dan atau trauma karena pembedahan, interupsi saraf, diseksi otot.

a. Kaji tingkat nyeri dengan P. Q. R. S. T.

 Provoking : Penyebab

 Quality : Kwalitas

 Region : Lokasi


 Severate : Skala

 Time : Waktu

b. Kaji efek nyeri pada individu dengan menggunakan individu dan keluarga

 Kinerja ( pekerjaan ) tanggung jawab peran

 Interaksi sosial

 Keuangan

 Aktifitas sehari – hari

 Kognitif / alam perasaan

 Unit keluarga ( respon anggota keluarga )


2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi, adanya edema, destruksi jaringan

Hal yang dikaji :

a. Identifikasi faktor penyebab kerusakan integritas

b. Identifikasi rasional untuk pencegahan dan pengobatan, kerusakan integritas

c. Identifikasi tahap perkembangan

C1 Tahap I : eritema yang tidak memutih dari kulit yang utuh

C2 Tahap II : ulserasi pada epidermis atau dermis

C3 Tahap III : ulserasi meliputi lemak kutan

C4 Tahap IV : ulserasi meluas otot, telinga dan struktur penunjang


3. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kerusakan drainase limfatik, necrose jaringan

a. Kaji tanda radang

b. Kaji intake

c. Kaji pemberian obat dengan 5 benar ( waktu, obat, nama, dosis, cara)

d. Kaji hasil laboratorium ( Hb, Albumin, Lekosit)

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan mammae dan atau perubahan gambaran mammae

Hal yang dikaji :

a. Kaji perasaan terhadap kehilangan dan perubahan mammae

b. Kaji respon negatif verbal dan non verbal


5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan carsinoma mammae dan pilihan pengobatan

Hal yang dikaji :

a. Tingkat pendidikan

b. Kemampuan dalam mempersepsikan status kesehatan

c. Perilaku kesehatan yang tidak tepat

6. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kemotherapi

Hal yang dikaji :

a. Kaji intake

b. Pantau berat badannya


c. Kaji hasil laboratorium ( Hb, Albumin, Gula darah )

d. Kaji mual dan muntah

7. Ansietas berhubungan dengan lingkungan Rumah Sakit yang tidak dikenal, ketidak pastian tentang pengaobatan, perasaan putus asa dan tak berada, ketidak cukupan pengetahuan carsinoma dan pengobatan

Hal yang dikaji :

a. Kaji dan ukur tanda – tanda vital

b. Kaji tingkat kecemasan, ringan, sedang, berat, panik

c. Kaji tingkat pendidikan


H. FOKUS INTERVENSI

Fokus intervensi dari perawatan pasien dengan carsinoma mammae


1. Nyeri berhubungan dengan manipulasi jaringan dan atau trauma karena pembedahan, interupsi, diseksi otot ( Danielle Gale, 1995; Doengos, 1993)

Kriteria evaluasi :

Pasien mengekspresikan penurunan nyeri

Intervensi :

Perhatikan lokasi nyeri, lamanya dan intensitasnya ( skala 1-10), perhatikan respon verbal dalam mengungkapkan nyeri, bantu pasien untuk posisi yang nyaman serta tindakan yang dapat memberi kenyamanan seperti masase punggung, dorong ambualasi dini dan teknik relaksasi, berikan obat sesuai pesanan.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi adanya edema, destruksi jaringan ( Doengos, 1993)


Kriteria evaluasi :

Akan terjadi penyembuhan luka bebas drainase, purulen atau eritema

Intervensi


Obsrvasi balutan / luka setelah dilakukan perawatan luka, guna mengetahui karakteristik luka, drainase, quasi edema, kemerahan dan insisi pada mammae, tempatkan pada posisi semi fowler pada sisi puggung yang tidak sakit, injeksi dibagian yang tidak sakit, kosongkan drain secara periodik, catat jumlah dan karakteristik

3. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kerusakan drainase limfalik karena diseksi nodus limfe aksilaris dan adanya drain pembedahan ( Danielle Gale, 1945)

Kriteria evaluasi

Tidak ada infeksi pada extremitas yang sakit dan atau pada daerah luka pembedahan

Intervensi

Observasi lengan yang sakit terhadap adanya tanda – tanda infeksi, observasi integritas kulit yang tertutup diatas dinding dada terhadap tanda dan gejala kemerahan, pembengkakan dan drainase, bau tidak sedap, serta warna kekuning – kuningan atau kehijau – hijauan, hindari penggunaan extremitas yang sakit untuk pemasangan infus, observasi daerah pemasangan drainase terhadap adanya tanda kemerahan, nyeri pembengkakan, atau adanya drainase purulenta, observasi kulit dan rawat kuku pada daerah yang sakit.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan mammae dan atau perubahan gambaran dari mastektomi segmental dan atau radiasi mammae ( Dainalle Galle, 1995)

Kriteria evaluasi

Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya tentang diagnosa carsinoma mammae, pengobatannya dan dampak yang diharapkan atas gaya hidup, evaluasi perasaan pasien atas kehilangan mammae pada aktifitas sexual, hubungan dan citra tubuhnya, berikan kesempatan pasien terhadap rasa berduka atas kehilangan mammae, izinkan pasien mengungkapkan perasaan negatifnya.


5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan carsinoma mammae dan pilihan pengobatan ( Daianlle Galle, 1995)

Kriteria evaluasi

Pasien dapat berperan serta dalam pengambilan keputusan akan pengobatan carsinoma , pasien mendiskusikan rasional dari pengobatan dan mengungkapkan tindakan – tindakan yang kemungkinan timbul dari efek samping

Intervensi

Observasi pengetahuan pasien / keluarga mengenai carsinoma mammae dan anjurkan pengobatannya , jelaskan patofisiologi dari carsinoma mammae, hindari janji – janji yang tidak mungkin, berikan informasi tentang pilihan pengobatan yang sesuai

6. Anxietas berhubungan dengan lingkungan Rumah Sakit yang tidak dikenal, ketidak pastian pengobatan carsinoma, perasaan putus asa dan tak berdaya dan ketidak cukupan informasi dan pengobatannya ( Lynda Juall, 1993 )

Kriteria evaluasi

Pasien akan berbagi masalah mengenai diagnosa carsinoma

Intervensi


Berikan kesempatan pasien dan keluarga mengungkapkan perasaan, lakukan kontak sering, berikan suasana ketenangan dan rileks, tunjukkan sikap yang tidak menilai dan mendengar penuh perhatian, dorong diskusi tentang carsinoma dan pengalaman orang lain

7. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kemotherapi ( Danielle galle, 1995 )

Kriteria evaluasi

Berat badan naik atau turun

Intervensi

Monitor untuk mekanan tiap hari, timbang badan tiap hari jika memungkinkan, jelaskan pentingnya nutrisi adekuat, observasi ulang makanan pantang dan kesukaan, manipulasi lingkungan yang nyaman, bersih, dan tak berbau, anjurkan makan porsi kecil dan sering, kolaborasi ahli gizi untuk pemberian diet TKTP



postingan perawat blogger

selanjutnya ►►